Berita ini diambil dari Koran Malang Post, edisi Selasa 26 Januari 2010


GIZI bukan saja hal biasa bagi Adita Utami, siswi kelas X.4 SMAN 10 Malang. Gadis yang akrab disapa Dita ini menuturkan pentingnya memperhatikan asupan gizi bagi tubuh. Biasanya sih, anak perantauan itu nggak terlalu memperhatikan gizi dan menganut motto ‘yang penting kenyang’.
“Aku selama sekolah di Malang tinggalnya kan di asrama, jadi urusan makan cukup terjamin. Ya kuantitas dan gizinya,” jelas salah satu siswa yang mendapat beasiswa Sampoerna Foundation.

Di asrama Sampoerna Academy yang ditempatinya sekarang, menu makanan yang ditawarkan cukup memenuhi kebutuhan gizi siswa. Dara yang mengidolakan SBY ini mengungkapkan di asramanya juga memiliki papan saran. “Setiap anak boleh mengisi papan saran. “Setiap anak boleh mengisi papan saran, itu jika dirasa ada menu makanan yang kurang oke atau ingin menu makanan yang berbeda,” cerita Dita.
Seperti contoh, Dita menginginkan sayur bayam, karena dia menilai bahwa selama ini, catering asrama belum menyediakan zat besi.
Menanggapi tentang adanya hari Gizi, apa jawaban Dita ketika ditanya jika ia menjadi Duta Gizi Nasional? “Pertama, aku pengin meninjau daerah-daerah yang dirasa masyarakatnya memiliki kekurangan gizi, seperti NTB itu. Dengan melihat langsung, kita jadi punya passion lebih untuk mengatasi kekurangan gizi,” ungkapnya panjang lebar.
Selain meninjau, Dita juga pengin menggalang komunitas dengan teman-temannya atau remaja yang peduli dengan gizi untuk merayakan hari gizi setiap 25 Januari ini. “Pengin gitu ngadain acara berkaitan dengan Hari Gizi Nasional, ngadain hari pemeriksaan gizi gratis, sekalian cari donatur untuk wilayah-wilayah Indonesia yang kekurangan gizi,” terang cewek manis ini.
Tapi kalau emang bisa terealisasi sih, Dita pengin ngajak temen-temennya dulu untuk sosialiasi tentang gizi ke daerah-daerah. Nggak usah muluk-muluk ke NTB segala, yang daerah sekitar Malang, yang dirasa perlu untuk diperhatikan gizinya.
Cewek yang pernah juara 1 Lomba Story Telling se-Kabupaten Probolinggo ini juga menuturkan jika asupan makanannya juga disesuaikan dengan
kondisi tubuhnya. “Misalnya nih, aku lagi sakit, ya pasti ada beberapa makanan yang jadi pantangan. Meskipun itu bergizi, tapi kan disesuaikan
dengan kondisi tubuhku juga,” cerita Dita. “Gizi kalau terlalu berlebihan juga malah nggak baik kan? Jadi, ngikut dengan kondisi tubuh aja,”
katanya lagi. (*/han)