“bertarunglah demi kehormatan dan harga diri”

Posted by yudi fahmin - 22/07/10 at 05:07 pm

Open Tournament Taekwondo Stetsa Cup 2010 Se-Malang Raya

Septian Aryo Wibowo

Kalimat yang cukup sederhana dan mungkin bagi sebagian orang hanyalah ungkapan penghias ruangan, namun apabila direnungkan dalam-dalam, kalimat ini lebih dari sekedar pahatan dinding. Kalimat ini telah cukup bahkan lebih untuk membakar semangat yang membeku dalam hati terutama bagi mereka para Taekwondoin yang telah sekian lama menanti sebuah pertarungan, dimana yang terbaiklah yang namanya akan terus dikenang dan disegani dalam sejarah dunia beladiri Taekwondo.

Memang benar adanya. Minggu lalu 4 dari 6 atlet Taekwondo putra SMAN 10 Malang( Dwi Al Aji Suseno under 55 kg, Septian Aryo Wibowo under 55 kg, Bramastyo Galih Pandu Wicaksono under 68 kg, Rizki Eko Setiawan under 59 kg, Naada Ghulaam Zakiyyan under 65 kg dan Muhammad Aditya Nuril Firdaus under 51 kg)  telah berhasil meraih 2 piala juara2 di kelas under 55 dan 59 kg, kemudian 2 piagam juara 3 di kelas under 65 dan 68 kg tepatnya pada hari Minggu, 18 Juli 2010 di Aula bersama SMA Tugu (SMAN 1,3,4 Malang) dalam acara Open Tournament Taekwondo Stesa Cup 2010 se-Malang Raya yang diikuti oleh beberapa perwakilan atlet taekwondo SMA/MA/SMK.

Mungkin ada sedikit pertanyaan di hati pembaca sekalian. Mengapa tidak ada yang meraih juara satu?. Pembaca yang budiman, ini bukan hanya soal meraih juara saja namun di balik semua ini banyak sekali perjuangan yang kian gigih dan pengorbanan yang telah banyak mereka lalui bersama.

Saat itu hari senin, 7 hari sebelum hari H pertandingan. Grup teater berkolaborasi dengan Taekwondo dan Karate akan mengadakan latihan untuk pertunjukan drama Kerajaan Singosari yang akan ditampilkan nanti pada saat Inagurasi( pelepasan siswa-siswi SMAN 10 Malang Sampoerna Academy untuk tinggal di asrama). Saat itu mereka, dua beladiri SMAN10 Malang, karate dan taekwondo sedang sibuk-sibuknya menentukan koreografi pertarungan sebagai prajurit kerajaan Singosari dan Kadiri. Dalam keadaan yang serba membingungkan ini, Tim Atlet Taekwondo masih harus dibingungkan lagi dengan Training Center ( pemusatan latihan ) untuk pertandingan yang saat itu masih belum jelas akan ikut atau tidak dalam pertandingan tersebut dan latihan untuk Inagurasi.

Akhirnya dengan keputusan bersama mereka memutuskan untuk lebih menfokuskan diri pada TC pertandingan dari pada Inagurasi karena mereka berfikir pertandingan ini hanya sekali dan baru kali ini dan sayang apabila dilewatkan tanpa adanya keikutsertaan tendangan para atlet Taekwondo SMAN 10 Malang sehingga tak jarang mereka sering absen latihan untuk inagurasi. Namun, mereka juga merasa sungkan dan tidak enak hati kepada tim Inagurasi yang telah mengandalkan mereka untuk ikut serta meramaikan panggung Inagurasi, terpaksa mereka harus mengorbankan perasaan mereka pada rekan tim inagurasi. Terkadang apabila waktu latihan Inagurasi dan pertandingan tidak berbenturan, mereka harus menyempatkan diri untuk datang untuk latihan inagurasi sekalipun dalam keadaan yang amat lelah setelah sore hari mereka berlatih keras untuk pertandingan. Dalam keadaan yang serba membingunkan ini,maka para atlet hanya mendapatkan TC sebanyak 5 hari, bukan jangka waktu yang efektif untuk meraih target juara, namun apa daya dari pada tidak ada latihan.

Hal itu belum seberapa, masalah lain adalah permasalahan administrasi yang tak kunjung usai hingga mendekati 3 hari pra pertandingan. Banyak hal yang menjadi masalah, baik itu akte kelahiran yang tidak semua atlet membawanya,mereka harus bergerak kesana kemari, mengorbankan uang dan waktu, komunikasi antar atlet yang sering terputus dan segala macam masalah yang harus mereka lalui hanya demi sebuah pertandingan. Begitu pula Dwi Al Aji, Ketua Umum Taekwondo SMAN 10 Malang yang menjadi teramat sibuk karena mengurusi segala hal yang berkaitan dengan pertandingan.

Yang lebih menegangkan lagi adalah saat dua dari 6 atlet yang menempati kelas yang sama di under 55 kg dan harus bertarung pertama di kelas tersebut untuk merebutkan tempat di semi final. Mereka adalah Dwi Al Aji Suseno dan Septian Aryo Wibowo. Sungguh tidak nyaman bertarung dengan rekan satu tim yang telah sekian lama memikul beban bersama untuk sebuah kemenangan dan sekarang harus dipertemukan untuk menentukan mana yang akan lolos ke babak final. Benar- benar hal yang tidak nyaman bagi mereka hingga mereka pun sepakat untuk tidak menyerang daerah kepala satu sama lain.

Takdir berkata lain, suatu hal yang amat di sayangkan, Dwi Al Aji belum bisa lolos di babak ini di pertandingan ini, padahal telah banyak hal yang telah ia korbankan hanya demi pertandingan, namun apa daya, maka lawannyalah yang akan melanjutkan ke babak semi final.

Begitu lama pertandingan yang mereka ikuti, tamparan punggung kaki di badan,kaki, lengan, kepala bahkan muka telah mereka rasakan. Tak jarang mereka yang merasakan sakit kepala, pening, terkilir bahkan sesak karena tendangan. Banyak dari mereka yang akhirnya harus ke medical center terutama Galih yang rela telapak kakinya hancur dan Naada yang terpaksa tidak bisa tertawa karena sesak di dadanya.

Hal lain yang menarik adalah saat Aditya Nuril harus melawan sabuk hijau. Sekalipun dia belum bisa lolos, namun dengan berbekal keberanian dalam bertarung dan latihan 5 hari, ia telah menunjukkan performa yang luar biasa pada Timnya.

Pertarungan yang cukup sengit juga terjadi antara Septian Aryo Wibowo dan lawanya dari Kesatuan Taekwondo Kostrad. Saat itu 2 tendangan keras yang mengenai kepala belakang di ronde pertama, dan samping di ronde kedua, cukup untuk membuat Head Protectornya lepas dan membuat kepalanya pusing, hingga pada ronde akhir, juara 1 tidak sampai kepadanya, namun kepada lawannya dari kesatuan kostrad.

Rizki Eko Setiawan

Yang lebih menegangkan lagi adalah saat Rizki Eko Setyawan harus melawan anak dari Kesatuan Taekwondo Kostrad yang telah sampai pada sabuk merah strip satu( dua tingkat di bawah hitam) yang menyamar sebagai sabuk kuning. Sebuah kecurangan dan hal yang tidak fer, karena tidak seharusnya peraih juara perunggu Kejurda Kediri melawan mereka yang baru saja bergelar sabuk kuning. Tak perlu di tanya lagi, 3 tendangan ekslusif menyerang kepala secara berurutan, yang pertama Kyong Ho Aborigi( tendangan jauh mencangkul) mengenai kepalanya, kemudian Dwi Hurigi( tendangan melingkar belakang) tendangan yang lebih sering di gunakan oleh Son Bae( senior) atau Sabeum( pelatih) ketika bertanding, dan yang terakhir tendangan telak kepala Iddan Narae( Tendangan satu kaki bergeser ke depan dan diikuti oleh tendangan kaki satunya) hingga membuatnya jatuh dan tidak dapat melanjutkan pertandingan, namun beruntungnya, di kelas under 59 kg hanya diisi 2 orang, hanya dia dan lawannya, apabila salah satu kalah maka yang kalah akan mendapat juara 2 dan yang menang juara 1. Tidak seperti yang lain yang harus melewati beberapa partai untuk mencapai garis juara.

Itulah gambaran perjuangan Tim Atlet Taekwondo SMAN 10 Malang, walaupun hanya mendapatkan juara dua dan tiga, tidak menjadi masalah bagi mereka rekan satu tim, karena yang mereka cari bukan semata kemenangan , piala dan kehormatan, tapi kebersamaan antar atlet, kekompakan tim, peking kalimat semangat pendukung, suka dan duka, peluh dan pengorbanan yang telah di lalui bersama demi kehormatan, kejayaan dan harga diri Tim Atlet Taekwondo SMAN 10 Malang.

Karena sang juara sejati bukan bagaimana ia memegang kebanggan juara tapi bagaimana perjuangan dan solidaritasnya untuk meraih kesuksesan bersama.

 

 

 

 

Tim Atlet Taekwondo SMAN 10 Malang

Sampoerna Academy

Angkatan 2009-2010

Leave a Reply