News Reading Concest – UM
NEWS READING CONTEST 2013
BE A PROFESSIONAL NEWS READER
Pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 1 dan 2 Juni 2013 UKM IPRI mengadakan NRC (News Reading Competition) 2013. Perwakilan dari SMA N 10 Malang Sampoerna Academy adalah Muhammad Bahrul Latif kelas XI IPA 7 dan Aqila Nur Rahmalia Kelas X-10. NRC di awali dengan opening ceremony yang dilaksanakan di Gedung D4 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, kemudian dilanjutkan dengan lomba baca berita tingkat Provinsi Jawa Timur.
Lomba ini dikuti oleh siswa SMA atau sederajat serta mahasiswa yang berumur 16-25 tahun. Sekitar 170 peserta mengikuti lomba ini. Lomba ini dimulai dengan babak penyisihan, peserta di bagi menjadi 3 ruang seperti ruangan audisi, 50 peserta di Ruang A dan 50 peserta di Ruang B dan peserta lainnya di Ruang C. Satu persatu peserta masuk ke ruangan lomba dengan masing – masing dua juri di dalamnya. Peserta membacakan berita yang sudah dipersiapkan sebelumnya di rumah untuk dibacakan pada saat lomba dengan durasi 3 menit per performance. Jurinya berasal dari presenter berita salah satu stasiun TV di Malang serta dosen UM.
Setelah semua peserta tampil sekitar pikul 11.30 acara dilanjutkan dengan ISHOMA. Setelah Ishoma acara kembali dilanjutkan dengan pengumuman babak penyisihan untuk diambil sepertiga dari jumlah peserta. Semua perwakilan SMAN 10 Malang masuk dalam 60 besar sehingga bisa melanjutkan ke babak perempat final keesokan harinya untuk diambil 30 besar. Untuk babak perempat final, peserta diberi lima artikel untuk dipelajari dan akan diundi untuk mendapat satu artikel yang akan di baca. Setelah babak perempat final selesai saatnya untuk diumumkan. Sayangnya, Muhammad bahrul Latif tidak dapat melanjutkan ke babak semifinal sedangkan Aqila Nur Rahmalia dapat maju ke babak selanjutnya.
Untuk babak semifinal Aqila dipasangkan dengan peserta yang lain untuk membacakan berita. Sebelum naik ke panggung ditayangkan video berita yang nantinya akan diolah kembali oleh peserta dan dibacakan di depan audience selama 3 menit. Untuk babak semifinal ini akan diambil 10 peserta yang akan menuju grandfinal.
Setelah semua semifinalis tampil acara dilanjutkan dengan pembagian doorprize sekaligus mengumumkan hasil untuk mengikuti babak grandfinal untuk di ambil 3 besar juara. Namun Aqila tidak bisa melanjutkan langkahnya menuju grandfinal, karena hampir semua semifinalis adalah penyiar radio profesional dan peresenter televisi, mungkin hanya 3 atau 4 semifinalis yang dari SMA
Setelah diumumkan hasil semifinal dilanjutkan dengan grandfinal, 10 peserta grandfinal mengambil undian teks berita untuk dipelajari selama 2 menit dan langsung tampil untuk membacakan beritanya. Sebelum pengumuman dimulai kami pulang terlebih dahulu karena sudah terlalu sore. Dan akhirnya kami pulang dengan hanya membawa sertifikat peserta dan semifinalis tanpa menyandang gelar the winner di ajang NRC tahun ini. Kami akan terus berjuang untuk menjadi yang terbaik. (bahrullatif)
Refleksi 68 tahun Indonesia ber-Pancasila,
PANCASILA, KETUHANAN, KEADILAN DAN PERSATUAN
“Tempat untuk menyendiri yang kusenangi itu di bawah pohon sukun yang menghadap ke laut. Aku duduk dan memandang pohon itu. Dan aku melihat pekerjaan Trimurti yang kukenal dalam agama Hindu. Aku melihat Brahma Yang Maha Pencipta berada dalam kuncup yang tumpuh di kulit kayu yang keabu-abuan itu. Aku melihat Wisnu Yang Maha Pelindung dalam daun rimbun dan buahnya yang lonjong. Aku melihat Siwa Yang Maha Perusak dalam dahan-dahan mati yang runtuh dari batangnya yang besar. Aku merasakan sel tubuhku yang sudah tua membusuk dan mati di dalam.”
(Bung Karno – Penyambung Lidah Rakyat, oleh Cindy Adams, Halaman 163)
Soekarno telah memikirkan, menggali nilai-nilai luhur bangsa yang saat ini dilegalkan menjadi dasar negara, Pancasila. Jauh-jauh itu, seorang pujangga Majapahit mengisyaratkan Pancasila dengan kalimat Bhineka Tunggal Ika. Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika-nya telah disepakati bersma untuk menjadi pedoman bangsa. Sebagai dasar negara, Pancasila memuat etika, nilai-nilai luhur bangsa, serta cita-cita bangsa. 1 Juni dan 1 Oktober masing-masing diperingati sebagai Hari Kelahiran dan Hari Kesaktian Pancasila, namun di abad ke-21 ini makna dua hari nasional itu semakin memudar.
Beberapa hari yang lalu, kasus bom Poso, Sulawesi Tengah dan sejumlah konflik sektarian masih terbeber luas di nusantara. Hal ini membuktikan semakin disfungsinya Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Kemajemukan (pluralitas) dan keanekaragaman (heterogenitas atau diversitas) masyarakat dan kebudayaan di Indonesia merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan. Nilai asli masyarakat Indonesia adalah nilai yang didalamnya melekat dengan konsep multikultural, nilai-nilai seperti toleransi beragama, agregasi sosial, kemajemukan kultural dan etnik, menjadi alasan mengapa para pendiri bangsa ini memilih Pancasila sebagai ideologi bangsa. Keniscayaan ini harus kita akui secara jujur, terima dengan lapang dada, kelola dengan cermat, dan kita jaga dengan penuh rasa syukur, bukan harus kita tolak, abaikan, sesalkan, biarkan, dan diingkari hanya karena kemajemukan dan keanekaragaman itu menimbulkan berbagai ekses negatif, antara lain benturan masyarakat dan kebudayaan lokal di berbagai tempat di Indonesia.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menggambarkan Indonesia buan sebagai negara agama pun bukan sebagai negara sekuler. Melalui sila pertama tersebut, Pancasila mewadahi semua kepercayaan religi masyarakatnya dengan tidak harus merasa was-was dan terancam. Demikian juga dengan sila ke-dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Adil merupakan cita-cita bangsa, malahan seluruh bangsa di dunia. Di dalam Pancasila terdapat dua kata adil, yaitu pada sila ke dua dan sila ke lima. Bukan kata makmur ataupun sejahtera yang dipilih, melainkan kata adil, karena rakyat masih bisa tahan dengan ketidak makmuran dan tidak sejahtera, namun rakyat tidak akan bertahan dengan ketidakadilan. Sila Persatuan Indonesia setidakn mewakili makna Bhineka Tunggal Ika dalam mengikat ratusan etnis yang tersebar di kepulauan nusantara ini. Melalui Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawratan Perwakilan diharapkan perlindungan kepada umat beribadah, usaha atas persatuan dan keadilan sehingga mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Lebih dalam sebagai ideologi, Pancasila telah dibentuk dari nilai-nilai luhur yang diyakini masyarakat efektif untuk membangun masyarakat yang harmonis dan damai. Terkait dengan tujuan membangun masyarakat harmonis berbasis kearifan lokal tersebut, maka tawaran agar pendidikan karakter melalui kearifan lokal agar mulai diperkenalkan oleh guru kepada para siswa. Semua satuan pendidikan siswanya memiliki keberagaman ras maupun agama, dapat menjadi laboratorium masyarakat untuk penerapan pendidikan karakter. Proses interaksi yang melibatkan semua pihak dalam kearifan lokal sama saja mempelajari karakteristik dari materi yang dikaji sehingga siswa secara langsung dapat menggali karakter peristiwa kelokalan tersebut. Kearifan lokal mempunyai arti sangat penting bagi anak didik, karena mereka akan memahami perjuangan nenek moyangnya dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, belajar tentang nilai-nilai kerja keras, pantang mundur, dan tidak kenal menyerah yang merupakan ciri khas masyarakat Indonesia di masa lalu, tetapi perlu diteladani di era globalisasi yang penuh dengan perubahan.
Masyarakat Indonesia sudah sepatutnya untuk kembali kepada jati diri mereka melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nilai-nilai luhur budaya dan kearifan lokal melalui Pancasila. Upaya membangun masyarakat harmonis di era otonomi daerah yang perlu dilakukan adalah menguak makna substantif kearifan lokal, misalnya keterbukaan dikembangkan dan kontekstualisasikan menjadi kejujuran. Pada saat yang sama, hasil rekonstruksi ini perlu dibumikan dan disebarluaskan ke dalam seluruh masyarakat sehingga menjadi identitas kokoh bangsa, bukan sekadar menjadi identitas suku atau masyarakat tertentu. Dalam hal ini, peran dan tanggung jawab instansi pendidikan sangat dibutuhkan untuk mentransfer nilai-nilai kearifan lokal tersebut melalui sebuah tawaran pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat bersumber dari nilai-nilai yang digali dari budaya masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal bukanlah penghambat kemajuan di era global, namun menjadi kekuatan transformasional yang luar biasa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal keunggulan kompetetif dan komparatif suatu bangsa. Oleh karena itu, penggalian nilai-nilai kearifan lokal merupakan langkah strategis dalam upaya membangun karakter bangsa. (arf)
Kunjungan ASTRA Internasional,
BELAJAR DARI SMAN 10 MALANG
UNTUK melaksanakan kewajibannya sebagai perusahaan, yaitu menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR), sejumlah perusahaan yang tergabung dalam Astra group menyempatkan diri untuk berkunjung ke kampus 2 SMAN 10 Malang di JL. Tlogowaru, Kedung Kandang, Malang pada Jumat, 31 Mei 2013. Rombongan yang terdiri dari 42 orang ini tiba di SMAN 10 Malang pada pukul 08.15 WIB setelah perjalanan dari Batu. Rombongan langsung disambut oleh tim pemandu dari SMAN 10 Malang, Ibu Djoeni Hendarti mewakili kepala sekolah, Ibu Novika Fajarini dari Head of Academic, dan Bapak Yudi Fahmin dari marketing dan komunikasi.
Kesan awal yang baik, dengan akrab rombongan tamu menyapa tim pemandu sembari mengantar ke dalam Aula Mercusuar. Di dalam Aula, para tamu terkesan dengan sederet piala yang terpajang di lobi mercusuar. Salah seorang dari rombongan berpendapat, walaupun usianya yang masih muda, SMAN 10 Malang sudah bisa mencetak prestasi sebanyak ini. Acara dibuka dengan sambutan kepala sekolah yang diwakili oleh Ibu Djoeni Hendarti. Beliau menyampaikan permintamaafan kepala sekolah yang dikarenakan ada kepentingan lain sehingga tidak bisa hadir menjamu tamu dari Astra tersebut.
Maksud dan tujuan kedatangan tim dari Astra ke SMAN 10 Malang ini adalah untuk belajar, bagaimana perusahaan merka bisa memberikan program CSR nya kepada masyarakat secara tepat sehingga benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat luas. Setelah sambutan dari Ibu Djoeni, para tamu diajak berkeliling sekolah dan asrama untuk melakukan school touring. Dua hingga tiga orang tamu dipandu oleh satu orang pemandu dari siswa. Para tamu diajak berkeliling mulai dari asrama, proyek biogas, ruang makan, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang kelas, ruang laboratorium TIK dan IPA, hingga kantin. Dalam school touring, para tamu juga menanyakan banyak hal tentang kegiatan-kegiatan non akademik di SMAN 10 Malang. Selain itu juga tentang kehidupan siswa di asrama.
Setelah melakukan school touring, rombongan kembali ke Aula Mercusuar untuk menyimak presentasi dari SMAN 10 Malang yang disampaikan oleh Bapak Yudi Fahmin dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Banyak sekali pertanyaan muncul dari para tamu untuk mengetahui lebih banyak tentang SMAN 10 Malang ini. Rombongan sangat terkesan dengan SMAN 10 Malang dengan para siswa, manajemen, kegiatan dan segala prestasinya. (arf)
Carrier Day 2013
SIAPKAN MULAI SEKARANG
UNTUK memberi gambaran tentang pekerjaan di masa mendatang, Putera Sampoerna Foundation bekerjasama dengan Bimbingan Konseling SMAN 10 Malang menggelar Carrier Day di kampus 2 SMAN 10 Malang JL. Tlogowaru, Kedung Kandang, Malang pada Senin, 27 Mei 2013. Acara ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI di kampus 2 dan perwakilan siswa kelas X dan XI dari kampus 1. Acara dibuka langsung oleh Kepala SMAN 10 Malang, Ibu Niken Asih Santjojo dan dilanjutkan dengan workshop oleh Ibu Novi dari Putera Sampoerna Foundation. Workshop yang berlangsung sekitar 60 menit ini membahas tentang pekerjaan yang tepat untuk setiap bakat dan minat masing-masing individu. Sehingga diharapkan, ketika masuk dalam dunia kerja nanti, setiap orang bisa merasakan kenyamanan dalam bekerja.
Acara dilanjutkan dengan pannel session. Seluruh siswa dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama dlah House Dolphin, Dove, Hornbill dan siswa dari kampus 1 yang melaksanakan pannel session di ruang kelas. Sedangkan sisanya tetap berada di Aula Mercusuar untuk menyimak workshop lanjutan dari Ibu Novi. Di ruang-ruang kelas, para siswa terbagi ke dalam lima kategori yang berbeda. Setiap kategori merepresentasikan jenis karir yang berbeda. Pertama adalah public service, kedua entrepreneur, ketiga non-profit carrier, keempat independent carrier, dan yang kelima adalah. Masing-masing kategori menghadirkan para profesional lokal sebagai pembicara dalam pannel session.
Sementara itu, workshop yang diadakan di Aula Mercusuar adlah membahas tentang Personality Type untuk menentukan jenis pekerjaan yang cocok dengan baka, minat serta kepribadian masing-masing individu. Sebab dalam mencari pekerjaan nanti, faktor utama yang harus diperhatikan selain pendapatan adalah keyamanan dalam hal bekerja. Setelah pannel session selesai, para siswa yang tadinya mengikuti workshop di Aula Mercusuar berganti ke pannel session, demikian juga dengan siswa yang tadinya mengiktu pennel session berganti mengikuti workshop personality type. Selain acara workshop dan pannel session,siswa kelas X juga mengadakan bazar makanan ringan di sepanjang koridor kelas XII. (arf)
Pengumuman Kelulusan UN
TERCAPAI SUDAH, LULUS 100%
BERKACA dari apa yang telah dikatakan oleh Ibu Niken Asih Santjojo pada pengumuman kelulusan tahun lalu, “Lulus itu kewajiban, yang terpenting adalah rencana mereka (siswa kelas XII) ke depan untuk membangun bangsa dan negara”, tahun 2012-2013 ini Alhamdulillah SMAN 10 Malang kembali meraih angka kelulusan 100%. Jumat, 24 Mei 2013 secara serentak telah terdengar kegembiraan atas kelulusan bagi siswa SMA/SMK se-tanah air, tak terkecuali dari kampus 2 SMAN 10 Malang. Berita kelulusan itu disampaikan kepada para siswa SMAN 10 Malang di kampus 2 setelah dewan guru menggelar rapat pleno kelulusan yang diselenggarakan di kampus 1 SMAN 10 Malang.
Pukul 13.00 WIB dewan guru datang dari kampus 1 dan disambut oleh siswa kelas XII yang sudah berkumpul untuk menanti-nati pengumuman yang sejak lama mereka tunggu. Membaca raut muka pra pengumuman, cukup banyak siswa yang berwajah tegang, namun juga banyak yang tetap untuk santai. Pukul 13.40 WIB, acara dimulai dan dibuka langsung oleh Bu Novika Fajarini, Head of Academic SMAN 10 Malang. Acara dibuka dengan pembacaan hasil keputusan rapat pleno kelulusan yang diadakan sebelumnya. Dalam surat keputusan rapat yang dibacakan tersebut, tandas sekali bahwa angka ketidak lulusan SMAN 10 Malang pada tahun 2012-2013 ini adalah 0% dan angka kelulusannya adalah 100%. Pernyataan tersebut langsung disambut sorak sorai oleh seluruh siswa yang berkumpul di aula mercusuar pada siang hari itu.
Nilai akhir yang menentukan kelulusan siswa didapat dari 60% nilai ujian nasional dan 40% nilai sekolah yang meliputi nilai rapot semester 3, 4, dan 5, serta ujian praktik dan ujian tulis sekolah. Walaupun pada tahun ini SMAN 10 Malang tidak bisa merah nilai tertinggi se-Kota Malang, para siswa dapat menerima nilai mereka dengan lapang dada dan dengan penuh rasa syukur. Untuk program IPA, nilai tertinggi pelajaran Bahasa Indonesia adalah 9,40, pelajaran Biologi adalah 9,75, sedangkan untuk pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi adalah 100. Jumlah nilai tertinggi untuk program IPA di SMAN 10 Malang adalah 55,65 yang diraih oleh Andri Fauzan. Sedangkan untuk program IPS, nilai tertinggi pelajaran Bahasa Indonesia adalah 9,00, pelajaran Bahasa Inggris adalah 9,40, pelajaran Matematika adalah 100, pelajaran Ekonomi adalah 9,75, pelajaran sosiologi adalah 9,20, dan pelajaran geografi adalah 8,60. Jumlah nilai tertinggi untuk program IPS di SMAN 10 Malang adalah 53,95.
Dari seluruh nilai, peraih nilai absolut 100 untuk pelajaran Bahasa Inggris ada 4 orang, pelajaran matematika IPA ada 5 orang, pelajaran Matematika IPS ada 1 orang, pelajaran Fisika ada 3 orang, dan pelajaran Kimia ada 7 orang.
Disampaikan oleh Bu Novika, ucapan selamat dan terima kasih atas perjuangan selama ini yang dilakukan oleh seluruh siswa kelas XII dan juga perjuangan bapak ibu guru. Namun beliau juga mengingatkan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah awalan. Jadi barang siapa yang telah mendapatkan nilai yang cukup tinggi, agar bisa dipertahankan, dn barangsiapa yang masih belum meraih nilai tinggi, agar berjuang lebih keras lagi di SNMPTN yang tak lama lagi akan dihadapi. Dilanjutkan oleh Pak Dibyo, Bu Prayuwati, Bu Siswati, dan Pak Sugiyanto, mereka mengungkapkan rasa bangga dan rasa syukur atas pencapaian siswa-siswanya dalam ujian nasional tahun ini. Mereka berharap prestasi ini bisa terus ditingkatkan dan dilanjutkan oleh siswa kelas XII berikutnya. (arf/lio/nov/mel)






