Lomba Cerpen Demokrasi

26th July 2010 by yudi fahmin No Comments

Arizky dan Piala Juara VII Lomba Cerpen Demokrasi

Bahasa Indonesia:

Demokrasi Dalam Cerita

Selasa (20/7), sebuah amplop dari komisi pemilihan umum Kota Batu kuterima. Beberapa dari temanku bertanya, apakah aku sudah berumur 17 tahun sehingga sudah diberi kartu pemilu. Aku juga merasa heran, segera aku buka amplop tersebut. Dan ternyata , isi dari amplop tersebut adalah surat undangan presentasi 10 NASKAH TERBAIK LOMBA CERPEN DEMOKRASI yang diadakan oleh Lembah Ibarat dan KPU Batu. Akupun teringat dengan naskah cerpen yang pernah kukirim lewat E-mail, sebenarnya aku tak mempunyai niat untuk mengikuti lomba tersebut. Karena pada saat itu, semua persyaratan untuk mengikuti lomba  seperti mengirim naskah hard copy rangkap 4 tak kupenuhi. Walaupun awalnya aku bersemangat, namun malam itu merupakan hari terakhir batas pengumpulan cerpen sehingga kuurungkan niat mengikuti lomba tersebut. Akupun hanya mengirimkan naskah soft copynya lewat E-mail agar karyaku tak terlalu sia-sia. Oleh karena itu, aku sangat terkejut ketika kulihat judul cerpenku berada di urutan 2 dalam 10 cerpen terbaik. Cerpenku berjudul Dari Atas Tower Itu… mengisahkan sebuah demokrasi kecil yang ada di tengah masyarakat desa, dimana kecurangan dan ketikdak adilan sering menimpa masyarakat kecil. Aku mencoba mengangkat fenomena seperti ‘salah tangkap’ dimana banyak masyarakat yang tak bersalah ditangkap dan dihakimi oleh para orang atas. Setelah mereka mengetahui bahwa orang tersebut tak bersalah, uang yang tak sepadan dengan luka fisik pun diberikan sebagai jaminan tutup mulut. Di cerita tersebut diceritakan seorang pemimpin yang tak menerapkan ‘Dari rakyat, Oleh rakyat, Untuk rakyat’ yang merupakan tujuan demokrasi. Bangga luar biasa, karena sebenarnya 10 naskah terbaik tersebut telah menjadi juara dan akan diterbitkan menjadi buku kumpulan cerpen demokrasi. Presentasi esoknya, hanya utuk menentukan 3 juara utama dan urutan, namun aku tak terlalu berharap banyak. Cerpenku benar – benar banyak kesalahan dari sisi kaidah penulisan atau EYD yang meliputi tanda baca, karena cerpen tersebut belum menjalani proses editing atau pembetulan sama sekali. Saat hari presentasi, aku mendapat urutan tampil pertama, serentak aku kaget. Dan benar saja, salah satu dari juri mempertanyakan mengenai hal itu, akupun hanya bisa menjawab sekenannya. Pengumuman tiba dan aku mendapat urutan ke-7 karya terfavorit. Aku sangat senang dan bersyukur kepada ALLAH SWT karena cerpenku yang tak memenuhi kriteria dan masih banyak kesalahan dibanding peserta lain masih bisa ikut bersaing dan bahkan masuk 10 nominasi. Prestasi ini merupakan langkah awal untukku lebih maju dan membuatku percaya that I can do everything!! How about you? //Arizky//

 

IN ENGLISH:

Democracy In Story

Tuesday (20 / 7), an envelope from the electoral commission Batu accept. Some of my friends asked me if I’ve aged 17 years, so have given the electoral card. I also feel surprised, I immediately open the envelope. And it turns out, the contents of the envelope is a letter of invitation presentation 10 BEST SCRIPT THE DEMOCRATIC RACE short stories held by the valley Like a Stone and the Commission. I also remembered that once I sent the manuscript short stories by E-mail, actually I do not have the intention to follow the competition. Because at that time, all the requirements for entering the contest as to send four copies of the manuscript hard copy can not fill. Although initially I was excited, but at night is the last day so that my short story haven’t submit and I cancelled it. I only send a soft copy via E-mail, so that my work was not too vain. Therefore, I was very surprised when I saw the tittle of my short story  number 2 in the 10 best short stories. My short story has a tittle ‘DARI ATAS TOWER ITU …’ tells the story of a small democracy that is in the middle of the village society, where cheating and unjustify situation often override the small community. I tried to lift the phenomenon ‘salah tangkap’ in which many innocent people are arrested and judged by the rich people. Once they know that the person is not guilty, the money is not commensurate with the physical injuries were given as collateral to shut up. In the story told of a leader who did not apply the ‘From the people, by the people, for the people’ which is the goal of democracy. Incredibly proud, because actually the best 10 scripts have become champions and will be published into a book of short stories of democracy. Presentation the next day, only to determine major champion and sequence, but I do not really expect much.My short story, really – really a lot of mistakes from the side writing or EYD writing rules that include punctuation, because these stories have not undergone the process of editing or correction at all. When the presentation day, I received the first order of appearance, at once I was shocked.And indeed, one of the jurors questioned about it, I just answer as much as I can. The announcement came and I got ranked 7th most popular storiy. I’m very pleased and thankful to GOD Almighty for my short story that haven’t filled the criteria and still a lot of mistakes than the other participants can still compete and even go into 10 nominations. This achievement represents the first step forward for me and made me believe That I can do everything! How about you?(Ar) 

Melepas Stress dengan Kumpul House

26th July 2010 by yudi fahmin No Comments

Setelah menjalani hari sebagai penerima Beasiswa Sampoerna Foundation, Sabtu (24/07) para siswa baru ini sudah terlihat akrab dengan kakak kelas, bahkan semuanya berbaur di house masing-masing. Tak terlihat adanya jenjang yang tinggi antara senior dan junior.

Setiap house memang terdiri dari 17 siswa, kini semenjak ada siswa baru secara otomatis jumlah anggota house bertambah. Meskipun jumlahnya sudah bertambah, setiap house memiliki Student Advisor masing-masing. Student Advisor inilah yang nantinya membantu menyelesaikan masalah mereka selain berfungsi sebagai orang tua.

”Mereka Terbagi di House yang sama tetapi Student Advisornya berbeda”,tegar Dra. Endang S.

Nantinya siswa ini akan menjalani kehidupannya bersama house masing-masing. Tidak hanya itu, jika satu diantara mereka melakukan kesalahan maka satu house akan terkena dampaknya.

Setiap akhir pekan para siswa ini memang menggunakan waktunya untuk berkumpul bersama house masing-masing. Selain membahas masalah house mereka juga menghilangkan stress dengan cara ini.

“Kita sih pengen ada hal berbeda aja, jadi kalau kumpul gini enakan bercanda aja, atau curhat masalah masing-masing,kita sudah seperti keluarga”,ujar Ade. (sit)

Serah Terima Piala Para Juara

22nd July 2010 by yudi fahmin No Comments

 Serah Terima Piala

Senin, 19 Juli 2010. Seusai upacara bendera para siswa yang telah memenangkan beberapa kejuaraan menyerahkan piala atau trophy juara kepada pihak sekolah yang diterima oleh Wakasek. Kurikulum Bapak Drs. Nur Ali Akhmad, M.KPd sekaligus bertindak sebagai Pembina Upacara pagi itu (19/7).

Beberapa piala yang diserahkan diantaranya yaitu Juara I Olimpiade Fisika Dinas Pendidikan Kota Malang Tingkat SMA/SMK/MA yang diraih oleh Evi Susilowati, Juara II Olimpiade Biologi Dinas Pendidikan Kota Malang Tingkat SMA/SMK/MA yang diraih oleh Rinda Meylia Widyasari.

M. Aditya Nuril Firdaus

Tak kalah ketinggalan juga Muhammad Aditya Nuril Firdaus juga menyumbangkan piala kejuaraan dalam bidang akademik dengan menjadi Juara Harapan I Olimpiade Fisika JP Books dalam event “Festival Indonesia Cerdas” tingkat Propinsi Jawa Timur pada tanggal 7 – 11 Juli lalu.

 M. Ainun Taimiyah Indra

Sedang dari bidang non akademik ada tiga piala yang diserahkan ke sekolah atas jerih perjuangan mereka membawa nama baik SMAN 10 Malang Sampoerna Academy, diantaranya M. Ainun Taimiyah Indra meraih Juara II dalam ajang Lomba Pidato Jambore Pemuda Koperasi Tingkat Nasional Tahun 2010 dengan menyisihkan 38 peserta dari seluruh Indonesia. Lomba pidato ini adalah bagian kompetisi yang diadakan pada kegiatan Perkemahan Jambore Koperasi dalam rangka Hari Koperasi ke-63 bertempat di Kebun Raya Purwodadi – Pasuruan – Jawa Timur.

Masih dari bidang non akademik, ekstrakurikuler Taekwondo menyumbangkan 2 piala sekaligus dalam ajang pertarungan “Steta Cup 2010” dengan sistem turnamen terbuka yang diselenggarakan di Aula SMA Tugu – Kota Malang. Adalah Rizki Eko Setiawan sebagai Juara II kelas under 59 Kg Putra. Dan Septian Aryo Wibowo sebagai Juara II kelas under 55 Kg.

Diharapkan semakin banyak siswa yang meraih prestasi dibidang akademik maupun non akademik baik di tingkat lokal, regional, maupun tingkat nasional di saat mendatang, apalagi dengan bertambahnya 210 siswa angkatan ke-II Sampoerna Academy yang tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk menunjukkan prestasi yang gemilang demi SMAN 10 Malang.

“bertarunglah demi kehormatan dan harga diri”

22nd July 2010 by yudi fahmin No Comments

Open Tournament Taekwondo Stetsa Cup 2010 Se-Malang Raya

Septian Aryo Wibowo

Kalimat yang cukup sederhana dan mungkin bagi sebagian orang hanyalah ungkapan penghias ruangan, namun apabila direnungkan dalam-dalam, kalimat ini lebih dari sekedar pahatan dinding. Kalimat ini telah cukup bahkan lebih untuk membakar semangat yang membeku dalam hati terutama bagi mereka para Taekwondoin yang telah sekian lama menanti sebuah pertarungan, dimana yang terbaiklah yang namanya akan terus dikenang dan disegani dalam sejarah dunia beladiri Taekwondo.

Memang benar adanya. Minggu lalu 4 dari 6 atlet Taekwondo putra SMAN 10 Malang( Dwi Al Aji Suseno under 55 kg, Septian Aryo Wibowo under 55 kg, Bramastyo Galih Pandu Wicaksono under 68 kg, Rizki Eko Setiawan under 59 kg, Naada Ghulaam Zakiyyan under 65 kg dan Muhammad Aditya Nuril Firdaus under 51 kg)  telah berhasil meraih 2 piala juara2 di kelas under 55 dan 59 kg, kemudian 2 piagam juara 3 di kelas under 65 dan 68 kg tepatnya pada hari Minggu, 18 Juli 2010 di Aula bersama SMA Tugu (SMAN 1,3,4 Malang) dalam acara Open Tournament Taekwondo Stesa Cup 2010 se-Malang Raya yang diikuti oleh beberapa perwakilan atlet taekwondo SMA/MA/SMK.

Mungkin ada sedikit pertanyaan di hati pembaca sekalian. Mengapa tidak ada yang meraih juara satu?. Pembaca yang budiman, ini bukan hanya soal meraih juara saja namun di balik semua ini banyak sekali perjuangan yang kian gigih dan pengorbanan yang telah banyak mereka lalui bersama.

Saat itu hari senin, 7 hari sebelum hari H pertandingan. Grup teater berkolaborasi dengan Taekwondo dan Karate akan mengadakan latihan untuk pertunjukan drama Kerajaan Singosari yang akan ditampilkan nanti pada saat Inagurasi( pelepasan siswa-siswi SMAN 10 Malang Sampoerna Academy untuk tinggal di asrama). Saat itu mereka, dua beladiri SMAN10 Malang, karate dan taekwondo sedang sibuk-sibuknya menentukan koreografi pertarungan sebagai prajurit kerajaan Singosari dan Kadiri. Dalam keadaan yang serba membingungkan ini, Tim Atlet Taekwondo masih harus dibingungkan lagi dengan Training Center ( pemusatan latihan ) untuk pertandingan yang saat itu masih belum jelas akan ikut atau tidak dalam pertandingan tersebut dan latihan untuk Inagurasi.

Akhirnya dengan keputusan bersama mereka memutuskan untuk lebih menfokuskan diri pada TC pertandingan dari pada Inagurasi karena mereka berfikir pertandingan ini hanya sekali dan baru kali ini dan sayang apabila dilewatkan tanpa adanya keikutsertaan tendangan para atlet Taekwondo SMAN 10 Malang sehingga tak jarang mereka sering absen latihan untuk inagurasi. Namun, mereka juga merasa sungkan dan tidak enak hati kepada tim Inagurasi yang telah mengandalkan mereka untuk ikut serta meramaikan panggung Inagurasi, terpaksa mereka harus mengorbankan perasaan mereka pada rekan tim inagurasi. Terkadang apabila waktu latihan Inagurasi dan pertandingan tidak berbenturan, mereka harus menyempatkan diri untuk datang untuk latihan inagurasi sekalipun dalam keadaan yang amat lelah setelah sore hari mereka berlatih keras untuk pertandingan. Dalam keadaan yang serba membingunkan ini,maka para atlet hanya mendapatkan TC sebanyak 5 hari, bukan jangka waktu yang efektif untuk meraih target juara, namun apa daya dari pada tidak ada latihan.

Hal itu belum seberapa, masalah lain adalah permasalahan administrasi yang tak kunjung usai hingga mendekati 3 hari pra pertandingan. Banyak hal yang menjadi masalah, baik itu akte kelahiran yang tidak semua atlet membawanya,mereka harus bergerak kesana kemari, mengorbankan uang dan waktu, komunikasi antar atlet yang sering terputus dan segala macam masalah yang harus mereka lalui hanya demi sebuah pertandingan. Begitu pula Dwi Al Aji, Ketua Umum Taekwondo SMAN 10 Malang yang menjadi teramat sibuk karena mengurusi segala hal yang berkaitan dengan pertandingan.

Yang lebih menegangkan lagi adalah saat dua dari 6 atlet yang menempati kelas yang sama di under 55 kg dan harus bertarung pertama di kelas tersebut untuk merebutkan tempat di semi final. Mereka adalah Dwi Al Aji Suseno dan Septian Aryo Wibowo. Sungguh tidak nyaman bertarung dengan rekan satu tim yang telah sekian lama memikul beban bersama untuk sebuah kemenangan dan sekarang harus dipertemukan untuk menentukan mana yang akan lolos ke babak final. Benar- benar hal yang tidak nyaman bagi mereka hingga mereka pun sepakat untuk tidak menyerang daerah kepala satu sama lain.

Takdir berkata lain, suatu hal yang amat di sayangkan, Dwi Al Aji belum bisa lolos di babak ini di pertandingan ini, padahal telah banyak hal yang telah ia korbankan hanya demi pertandingan, namun apa daya, maka lawannyalah yang akan melanjutkan ke babak semi final.

Begitu lama pertandingan yang mereka ikuti, tamparan punggung kaki di badan,kaki, lengan, kepala bahkan muka telah mereka rasakan. Tak jarang mereka yang merasakan sakit kepala, pening, terkilir bahkan sesak karena tendangan. Banyak dari mereka yang akhirnya harus ke medical center terutama Galih yang rela telapak kakinya hancur dan Naada yang terpaksa tidak bisa tertawa karena sesak di dadanya.

Hal lain yang menarik adalah saat Aditya Nuril harus melawan sabuk hijau. Sekalipun dia belum bisa lolos, namun dengan berbekal keberanian dalam bertarung dan latihan 5 hari, ia telah menunjukkan performa yang luar biasa pada Timnya.

Pertarungan yang cukup sengit juga terjadi antara Septian Aryo Wibowo dan lawanya dari Kesatuan Taekwondo Kostrad. Saat itu 2 tendangan keras yang mengenai kepala belakang di ronde pertama, dan samping di ronde kedua, cukup untuk membuat Head Protectornya lepas dan membuat kepalanya pusing, hingga pada ronde akhir, juara 1 tidak sampai kepadanya, namun kepada lawannya dari kesatuan kostrad.

Rizki Eko Setiawan

Yang lebih menegangkan lagi adalah saat Rizki Eko Setyawan harus melawan anak dari Kesatuan Taekwondo Kostrad yang telah sampai pada sabuk merah strip satu( dua tingkat di bawah hitam) yang menyamar sebagai sabuk kuning. Sebuah kecurangan dan hal yang tidak fer, karena tidak seharusnya peraih juara perunggu Kejurda Kediri melawan mereka yang baru saja bergelar sabuk kuning. Tak perlu di tanya lagi, 3 tendangan ekslusif menyerang kepala secara berurutan, yang pertama Kyong Ho Aborigi( tendangan jauh mencangkul) mengenai kepalanya, kemudian Dwi Hurigi( tendangan melingkar belakang) tendangan yang lebih sering di gunakan oleh Son Bae( senior) atau Sabeum( pelatih) ketika bertanding, dan yang terakhir tendangan telak kepala Iddan Narae( Tendangan satu kaki bergeser ke depan dan diikuti oleh tendangan kaki satunya) hingga membuatnya jatuh dan tidak dapat melanjutkan pertandingan, namun beruntungnya, di kelas under 59 kg hanya diisi 2 orang, hanya dia dan lawannya, apabila salah satu kalah maka yang kalah akan mendapat juara 2 dan yang menang juara 1. Tidak seperti yang lain yang harus melewati beberapa partai untuk mencapai garis juara.

Itulah gambaran perjuangan Tim Atlet Taekwondo SMAN 10 Malang, walaupun hanya mendapatkan juara dua dan tiga, tidak menjadi masalah bagi mereka rekan satu tim, karena yang mereka cari bukan semata kemenangan , piala dan kehormatan, tapi kebersamaan antar atlet, kekompakan tim, peking kalimat semangat pendukung, suka dan duka, peluh dan pengorbanan yang telah di lalui bersama demi kehormatan, kejayaan dan harga diri Tim Atlet Taekwondo SMAN 10 Malang.

Karena sang juara sejati bukan bagaimana ia memegang kebanggan juara tapi bagaimana perjuangan dan solidaritasnya untuk meraih kesuksesan bersama.

 

 

 

 

Tim Atlet Taekwondo SMAN 10 Malang

Sampoerna Academy

Angkatan 2009-2010

Sampoerna Academy Student Inauguration 2010

21st July 2010 by yudi fahmin No Comments

 Foto 1

Sabtu, 17 Juli 2010. SMAN 10 Malang Sampoerna Academy menggelar perhelatan akbar kali kedua yaitu Sampoerna Academy Inauguration untuk siswa baru kelas X angkatan kedua program beasiswa Sampoerna Foundation.

Acara yang sempat molor karena harus menunggu kehadiran beberapa pejabat pemerintahan kota dan propinsi, acara dihadiri oleh banyak sekali undangan dari sektor corporasi dan pemerintahan, dan tentunya dari 210 orang tua siswa hadir menyaksikan putra putrinya di inagurasi.

 

Acara dibuka pukul 11.00 WIB dengan tarian Sekar Pinilih, adalah mas Kresna dan Wanda Lilavanti (siswi Sampoerna Academy Kelas XI) sebagai MC, dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Kepala Sekolah Dra Hj. Niken Asih Santjojo, kemudian sambutan dari Ibu Nenny Soemawinata (Putera Sampoerna Foundation), Ibu Henny Sentosa (PT. HM. Sampoerna Tbk), Bapak Drs. Peni Suparto, M.AP (Walikota Malang), dan diakhiri sambutan dari Bapak Drs. H. Syaifullah Yusuf selaku Wakil Gubernur Jawa Timur yang dalam sambutannya berpesan kepada para siswa agar menekankan pada loyalitas, komitmen dan kompetensinya sebagai seorang calon pemimpin.

 Foto 2

Acara bertambah ceria disaat para siswa inagurasi menyanyikan lagu “Spread Our Wings”. Dalam kesempatan itu pula Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur menyematkan pin Sampoerna Academy kepada siswa yang telah dipilih sebagai perwakilan dan secara serentak diikuti oleh semua siswa baru angkatan kedua Sampoerna Academy.

Seusai acara inagurasi ini kemudian diselenggarakan acara jumpa pers di Ruang Multimedia yang dihadiri oleh Bapak Walikota Malang Drs. Peni Suparto, M.AP, Sekkota Malang Dr. H. Shofwan, SH, M.Si, dan Ibu Kepala SMAN 10 Malang Sampoerna Academy dan tentunya rekan-rekan dari mass media.